Mestinya malam ini tak ku sebut namamu. Tapi suara hatiku terus mendesak dinding hati agar segera duduk bersimpuh, mengingatmu. Sudah ku coba bernegosiasi agar besok saja apa yang terkata ku katakan, apa yang tersirat ku suratkan, dan apa yang terbersit ku ikrarkan dalam satu lafazd mantra cinta. Sayang, aku tiada punya pilihan karena malam ini lah langit bening hatiku tak terhalang awan. Saat yang tepat untuk berkasih sayang denganmu. Ya, hanya dengan mu walau lewat getaran rasa.
Malam ini. Ya, malam ini. Malam ini, saat yang tepat bagi ku membaca mantra cinta. Malam ini, dengan mantra cinta ku ingin lautan rasa tenang dalam tarian kepasrahan, langit hati terjauh dari awan hitam, dan gemuruh jiwa kembali tenang bertahta di istana hati. Ku ingin dengan mantra cinta yang kulafadz membuat engkau hadir dilangit hatiku. Ya, karena di langit hati lah aku dan kau bisa bertemu dalam rasa dan getaran.
Dengan menyebut namamu rangkaian kata mantra ku bacakan, dan dengan menyebut namamu kesadaran akan engkau ku tinggikan. Dengan menyebut namamu engkau ku hadirkan, dan dengan menyebut namamu cinta ku dapatkan. Dan ku ingin dengan menyebut-nyebut namamu kita bisa segera bertemu dalam satu senyuman penuh cinta.
Duhai kekasih, aku rindu dan tiada yang kuharap selain bersatu dalam kesucian cintamu. Jangan tinggalkan aku agar aku tiada tersesat dalam perjalanan waktu, dan dengan belaian kasih mu semalam ku ingin malam ini kau juga membelai hatiku dengan kasih sayangmu.
Duh, Gusti

Tidak ada komentar:
Posting Komentar